Ada hari-hari di mana cermin di kamar mandi terasa seperti hakim yang paling kejam. Bukan karena pantulan wajah yang kusembunyikan di balik selimut, melainkan karena keheningan yang tiba-tiba berteriak nyaring di kepala. Di luar sana, duniaku berputar di sekitar satu poros: seseorang yang kuanggap sebagai support system terkuatku. Seseorang yang hadir dengan tawa renyah, pelukan hangat, atau sekadar deretan pesan teks di layar ponsel yang sanggup menyulap hari kelam menjadi sedikit lebih terang.
Namun, di balik kenyamanan itu, ada sebuah kebiasaan senyap yang perlahan menggerogotiku dari dalam. Aku selalu, dan hampir selalu, memikirkan keadaannya lebih dulu sebelum memikirkan diriku sendiri.
Jika dia terlihat murung, hariku mendadak ikut mendung. Jika dia butuh ditemani, aku rela membatalkan janji pada diri sendiri untuk tidur lebih awal atau menyelesaikan urusanku. Otakku seolah otomatis memprogram ulang prioritas hidupku: kenyamanan dia adalah nomor satu, kenyamananmu urusan kesekian.
Ironisnya, di malam hari, ketika lampu kamar sudah dipadamkan dan layar ponsel menggelap tanpa ada pesan masuk darinya, sebuah pertanyaan getir sering kali menyelinap. “Kalau aku di posisinya, apakah dia akan melakukan hal yang sama untukku? Apakah dia memikirkanku separuh aku memikirkannya?”
Pertanyaan itu tidak pernah mendatangkan jawaban yang melegakan. Yang ada hanyalah rongga hampa di dada. Pahit, tapi nyata. Aku sadar, aku sedang menggantungkan validasi mentalku pada seseorang yang mungkin hanya melihatku sebagai tempat singgah, bukan tempat tinggal. Aku merawat lukanya, sementara lukaku sendiri bernanah karena tidak pernah kubersihkan.
Mengapa aku begitu bodoh? Begitu pikirku dulu. Kenapa aku lebih memilih menghabiskan sisa energinya untuk memastikan orang lain baik-baik saja, sementara diriku sendiri sekarat dalam diam?
Setelah merenung cukup lama, aku menyadari bahwa rasa takut adalah pengemudi tak kasat mata di balik semua ini. Ada ketakutan bawah sadar akan ditinggalkan—fear of abandonment. Aku telanjur nyaman memiliki seseorang yang kuduga bisa mengerti duniaku, sehingga aku rela membayar berapa pun harganya agar dia tidak pergi. Harganya adalah mengorbankan diriku sendiri. Aku menjelma menjadi penyelamat bagi orang lain, tapi menjadi algojo bagi mentalku sendiri.
Kini, aku sedang belajar pelan-pelan. Belajar bahwa tidak apa-apa untuk menjadi sedikit "egois" dengan cara yang sehat. Bahwa kasih sayang yang tulus seharusnya tidak membuat sebelah pihak merasa terkuras hingga tak bersisa.
Jika kamu pernah merasakan hal yang sama—merasa lelah karena terlalu peduli pada seseorang yang bahkan mungkin lupa kapan terakhir kali menanyakan kabarmu—ketahuilah satu hal: kamu tidak sendiri. Kita hanya sedang belajar, dengan cara yang paling menyakitkan, bagaimana caranya pulang ke diri sendiri
